Cirebon, 04 November 2026. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Re-desain Kurikulum MPI Berbasis Outcome-Based Education (OBE) Menuju Jurusan MPI yang Unggul dan Kompetitif”. Kegiatan berlangsung pada Rabu (04/11/2026) di Auditorium FITK Lantai 5 dan menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dr. Muslihudin, M.Pd.

FGD ini diikuti oleh pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris jurusan, dosen, serta tenaga kependidikan di lingkungan Jurusan MPI. Sejumlah perwakilan mahasiswa dan alumni turut dilibatkan agar proses penyusunan kurikulum memperhatikan masukan dari para pengguna layanan pendidikan secara langsung.
Dalam sambutannya, Ketua jurusan MPI yakni Dr. H. Ahmad Ripai, M.Pd. menyampaikan bahwa perubahan kebutuhan dunia kerja dan tuntutan standar mutu pendidikan tinggi mengharuskan program studi terus melakukan pembenahan. Kurikulum, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi harus menjadi arah gerak seluruh proses pembelajaran. “Melalui FGD ini kami ingin memastikan lulusan MPI memiliki kompetensi yang jelas, terukur, dan relevan dengan kebutuhan lembaga pendidikan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Zaenal Arifin menjelaskan bahwa Outcome-Based Education (OBE) merupakan pendekatan yang menempatkan capaian pembelajaran sebagai titik awal perancangan kurikulum. Seluruh komponen, mulai dari profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, strategi pembelajaran, hingga asesmen, disusun secara selaras untuk memastikan mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Ia menegaskan bahwa perbedaan mendasar OBE dengan pendekatan konvensional terletak pada fokusnya. Jika pendekatan lama menitikberatkan pada materi apa yang diajarkan dosen, OBE menekankan pada apa yang mampu dilakukan mahasiswa setelah menempuh pembelajaran. Karena itu, rumusan capaian pembelajaran harus spesifik, dapat diukur, dan dapat dibuktikan melalui asesmen yang tepat. Prof. Zaenal juga mengingatkan pentingnya penyusunan profil lulusan yang berangkat dari analisis kebutuhan para pemangku kepentingan, mulai dari kepala madrasah, pengelola pesantren, pengawas pendidikan, hingga praktisi lembaga pendidikan Islam.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Muslihudin, M.Pd., menyoroti aspek implementasi OBE dalam praktik pembelajaran dan pengelolaan program studi. Menurutnya, kurikulum yang baik harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia, dukungan sarana, serta sistem penjaminan mutu yang berjalan konsisten. Tanpa itu, rancangan kurikulum yang matang berisiko tidak terlaksana secara optimal di ruang-ruang kelas.
Dr. Muslihudin juga mendorong penguatan pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, dan praktik lapangan dalam mata kuliah MPI. Pola pembelajaran seperti ini dinilai mampu melatih kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kepemimpinan, serta kolaborasi yang dibutuhkan lulusan di dunia kerja. Integrasi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, tegasnya, tetap harus menjadi ruh dalam setiap rancangan pembelajaran.
Sesi diskusi berlangsung dinamis. Para dosen menyampaikan berbagai gagasan, mulai dari pemetaan ulang mata kuliah, penyesuaian beban kredit, penguatan mata kuliah berbasis digitalisasi manajemen pendidikan, hingga skema Merdeka Belajar yang memberi ruang lebih luas bagi mahasiswa mengembangkan potensinya. Perwakilan alumni dan mahasiswa turut memberikan perspektif dari pengalaman mereka, dengan harapan kurikulum baru memperbanyak praktik nyata, memperkuat keterampilan komunikasi dan manajerial, serta membuka peluang magang yang terstruktur.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, kedua narasumber menyarankan agar jurusan menyusun peta jalan perubahan kurikulum secara bertahap, dimulai dari evaluasi kurikulum berjalan, perumusan profil dan capaian pembelajaran lulusan, penyusunan struktur mata kuliah, hingga penerapan serta monitoring evaluasi. Budaya mutu, menurut mereka, harus dibangun bersama oleh seluruh sivitas akademika agar OBE tidak sekadar menjadi slogan.
Di akhir kegiatan, peserta FGD menyepakati sejumlah rekomendasi sebagai bahan penyusunan draf re-desain kurikulum MPI. Rekomendasi tersebut akan ditindaklanjuti melalui rapat kerja dan pembentukan tim penyusun kurikulum di tingkat jurusan.
Melalui kegiatan ini, Jurusan MPI FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap dapat melahirkan kurikulum yang adaptif, berorientasi pada capaian, dan selaras dengan kebutuhan zaman. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya Jurusan MPI yang unggul, kompetitif, serta mampu mencetak lulusan yang profesional dan berakhlak mulia.